Wed. Oct 23rd, 2019

PENGOLAHAN PRODUK BIOFARMAKA DI KABUPATEN PACITAN Tahun 2017

2 min read

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah sentra produksi tanaman biofarmaka, sehingga budidaya dan penanganan pascapanen serta produk olahannya perlu mendapat perhatian dan dikembangkan lebih lanjut secara terpadu agar diperoleh nilai tambah. Tanaman biofarmaka merupakan semua tanaman berkhasiat pengobatan. Namun, yang sudah umum adalah tanaman yang menghasilkan rimpang antara lain jahe, kencur, dan temulawak. Saat ini pemanfaatannya masih terbatas untuk minuman jamu dan bumbu masakan. Minuman jamu dewasa ini semakin kurang diminati karena rasanya pada umumnya pahit sehingga kurang disukai. Guna menarik minat konsumen perlu inovasi teknologi yang menghasilkan produk olahan yang diminati masyarakat luas mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Penelitian bertujuan untuk membuat formulasi aneka produk olahan berbhan baku temulawak, kencur dan jahe. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2017. Bahan baku diperoleh dari Kabupaten Pacitan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen BPTP Balitbangtan Jawa Timur. Pembuatan aneka produk olahan adalah tepung temulawak, mie temulawak, cookies temulawak, minuman sari temulawak, stik kencur, minuman beras kencur, dan bidaran jahe. Dilakukan analisis fisiko-kimia produk yaitu rendemen, warna, kadar air, lemak abu, protein, lemak, karbohidrat, dan uji organoleptik (uji rasa) terhadap produk olahan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk olahan cukup disukai bila bahan bioarmaka yang ditambahkan tidak terlalu banyak. Mie temulawak yang disukai adalah penambahan maksimum 5% tepung temulawak. Cookies temulawak (putri salju) maksimal penambahan adalah 2,5% tepung temulawak. Produk stik kencur maksimal penambahan adalah 15% pasta kencur. Formulasi tersebut akan lebih disukai bila konsentrasi bahan biofarmaka dikurangi. Produk minuman temulawak menunjukkan bahwa makin lama perebusan (30 menit) makin disukai. Kadar protein tepung temulawak cukup tinggi yaitu 15,86%, sedangkan karbohidrat 63,37%, lemak 5,89%, abu 5,71%, air 9,17%. energi 369,95 kal, dan aktivitas antioksidan 94,82%. Komposisi nutrisi tersebut juga berpengaruh terhadap mie temulawak. Makin tinggi konsentrasi tepung temulawak yang ditambahkan, maka nutrisinya makin baik namun rasanya menjadi kurang disukai. Pengembangan produk olahan tersebut diharapkan dapat berkembang sebagai produk industri olahan, sehingga para pelaku industri olahan (UKM, UMKM, IRT, industri besar) dapat memproduksinya dan sekaligus promosi serta memasarkannya.

Kata kunci: biofarmaka, temulawak, kencur, jahe, formulasi, produk pangan, nilai nutrisi, Kabupaten Pacitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.